Mencoba Merangkai Kata

Antara Ramadhan dan Makanan

15 May 2017 - 15:22 WIB

Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan ampunan dan rahmat Allah SWT, terdapat berbagai kebaikan didalamnya dan satu hal yang pasti bahwa Ramadhan adalah bulan diwajibkan atas umat Islam yang beriman melaksanakan ibadah puasa, sebgaimana Firman Allah SWT :

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertaqwa ( QS. Albaqarah : 183 ) “.

Berdasarkan dalil diatas, maka jelaslah bagi kita bahwa tidak ada alasan untuk orang yang beriman untuk tidak berpuasa selagi ia mampu melaksanakannya, hanya mereka yang telah lanjut usia, orang sakit,  wanita haid dan anak-anak yang belum baliqh yang boleh tidak berpuasa. Selebihnya selagi ia Islam dan beriman wajib untuk melaksanakan ibadah puasa tersebut.

Terkait dengan bulan Ramadhan banyak hal-hal yang menarik di negeri kita Indonesia ini, mulai dari penyambutan kedatangan bulan ramadhan tersebut sampai kepada waktu mengakhiri bulan Ramadhan, berbagai kegiatan dilakukan oleh umat Islam.

Ada satu hal yang menarik menurut saya, ketika bulan Ramadhan datang, mulailah banyak tenda-tenda berdiri dan pasar-pasar perbukaan bertebaran dimana-mana, sehingga ini merupakan kemudahan bagi mereka yang tidak mau repot-repot ataupun tidak sempat memasak, tinggal datangi pasa-pasar perbukaan tersebut dan silahkan pilih-pilih mau berbuka dengan menu apa, tinggal pilih saja.

Didalam berpuasa kita menahan haus dan lapar, ini sudah pasti karena dalam kondisi berpuasa, namun terkadang kita melakukan perbuatan yang mubazir, pada siang hari saat menahan haus dan lapar datang kepasar perbukaan puasa, pilih semua menu yang mau disantap saat berbuka, tidak kita pikirkan apakah makanannya mampu kita habiskan ataupun tidak, saat siang hari rasanya semua menu yang kita pilih atau yang kita persiapkan akan habis pada malam harinya saat berbuka. Ternyata saat beduk berbunyi, puasa segera berbuka, minum segelas teh manis dan makan sepiring nasi perut sudah terasa kenyang. Akhirnya makanan dan menu berbuka yang sudah kita persiapkan sejak siang hari tadi terlena begitu saja, akibatnya terbuang sia-sia ( mubazir ).

Lain lagi kebiasan jelek menyantap makanan berbuka sepuas-puasnya, sampai tak bersisa dan menyebabkan perut kekenyangan matapun mengantuk dan ibadah malam bulan Ramadhan ( Shalat Tarawih, Tadarus Al-Qur’an Zikir dan Do’a ) luput dari kegiatan Ramadhan kita.

Antara Ramadhan dan Makanan, betapa ruginya kita saat bulan Ramadhan yang penuh dengan ampunan ini kita lewatkan melaksanakan berbagai ibadah didalamnya baik siang maupun malam hari, karena makanan. Perut yang kenyang mengakibatkan ngantuk, ngantuk menyebabkan malas, akhirnya tidur shalat isya jam sahur, shalat tarawih tak dikerjakan, bagaimana mungkin kita mendapatkan keberkahan bulan Ramadhan tersebut, apalagi mendapatkan malam Lailatul Qadar yang pada malam itu, lebih baik dari pada seribu bulan.

Semoga Ramadhan tahun ini kita bisa meninggalkan kebiasaan buruk dan biasakanlah diri di bulan Ramadhan memperbanyak amalan bukan makanan, sekian terimakasih.

 


TAGS   opini / pendidikan /