Mencoba Merangkai Kata

Apapun Motifnya, Duka Rohingya adalah Duka Kita Semua

5 Sep 2017 - 07:41 WIB

Siapa yang tega melihat manusia dibantai, disembelih, dibunuh secara sadis. Melihat hewan disakiti saja, naluri kemanusiaan kita tidak mungkin bisa menerima. Apalagi manusia, makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Tuhan yang maha kuasa. Manusia memiliki akal dan perasaan yang tidak dapat diabaikan begitu saja.

Foto : Detik.com

Tatkala perasaan itu diusik, hati ini menjerit, akal ini tidak bisa berfikir normal dan rasa iba datang tanpa diundang. Marah rasanya, kesal melihatnya. Emosi ingin membalas, ingin menyerang dan bahkan ingin mereka yang berbuat tidak berprikemanusiaan tersebut dibumihanguskan. Namun apalah daya, mereka warga sipil Rohingya hanya rakyat biasa. Tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Al-hasil, menunggu nasib, Menanti bantuan kemanusiaan, lari sekuat tenaga. Ingin menjauh dan tidak bertemu lagi dengan mereka yang kejam.

Menurut beberapa sumber, pembantaian dan penyerangan kepada warga Rohingga terjadi bukan semata persoalan agama. Bahkan terkait persoalan politis dan ekonomis. Dari sisi geografis, penduduk Rohingya adalah sekelompok penganut Muslim yang jumlahnya sekitar satu juta orang dan tinggal di negara bagian Rakhine. Wilayah Rakhine juga ditempati oleh masyarakat yang mayoritas memeluk agama Budha.

Meskipun wilayah Rakhine dikenal akan sumber daya alamnya, namun kenyataan warganya hidup dibawah garis kemiskinan, oleh sebab itu kehadiran warga Rohingya disana dianggap oleh warga Rakhine sebagai ancaman dan saingan. Sehingga mereka ingin warga Rohingya pergi dan tidak mencari kehidupan di Rakhine.

Namun cara pengusiran mereka tidak tanggung-tanggung, bahkan mengusir dengan cara membunuh dan membumihanguskan warga Rohingya. warga Rakhine yang mayoritas penduduk Budha dan warga Rohingya mayoritas Muslim, maka secara tidak langsung ini juga bagian dari permusuhan antar agama. Tetapi perlu diketahui juga bahwa umat Budha diluar Myanmar tidak senang dengan sikap umat Buhda yang ada di Myanmar ini, karena tindakan kekerasan yang mereka lakukan. Bahkan pemimpin umat Budha diluaran sana berharap warga Budha Myanmar segera mengakhiri kekejaman mereka, karena dalam agama Budha juga mengajarkan agar hidup saling damai dan bersatu.

Apapun motif dari pembantaian kepada warga Rohingya, duka warga Rohingya adalah duka kita semua, apapun agama kita tentu tidak pernah ada yang mengajarkan kekerasan, tidak pernah ada mengajarkan pembunuhan. Saya, Anda dan kita semua sebagai warga sipil Indonesia yang tidak memiliki kekuatan untuk membantu warga Rohinya hanya bisa berharap, agar ada dari pihak luar Rohingya terutama PBB untuk segera turun tangan mengatasi berbagai kekerasan yang terjadi disana. Dan kita juga hanya bisa berdo’a semoga Tuhan memberikan perlindungan kepada warga Rohingya yang di zalimi. Terimakasih telah membaca tulisan ini.


TAGS   sosial /